PT PAL Akan Ekspor 2 Kapal Militer ke Filipina

Salah satunya LPD https://cdn.sindonews.net/dyn/620/content/2016/05/16/40/1108939/tarlac-buatan-indonesia-jadi-kapal-perang-terbesar-filipina-peA.jpggSSV produksi PT PAL untuk Filipina (sindonews)

PT Penataran Angkatan Laut (PT PAL) akan ekspor dua kapal militer ke Filipina pada 2018. Salah satu jenis kapal yang akan di ekspor adalah Landing Platform Dock (LPD) sepanjang 143 meter dengan harga sekitar USD 43 juta atau sekitar Rp 626,24 miliar (asumsi kurs Rp 14.563 per dolar AS).

"(Harga) tergantung sebenarnya atas permintaan mereka, type seperti ini (LPD) misalnya sampai USD 43 juta USD, tapi terkait spesifikasi keinginan mereka itu (harga) bisa naik bisa turun," ujar Manager Humas PT PAL Bayu Witjaksono di JiExpo, Jakarta, Kamis (7/11).

Kapal jenis LPD ini memiliki banyak kelebihan antara lain kecepatan penuh (full load speed) sebesar 20 knots, kecepatan berlayar hingga 12 knots dan daya tahan dalam 12 knots selama 30 hari.

Kapal ini juga sempat digunakan untuk evakuasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 PK-LQP di Perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

"Ini paling disukai, di samping dia sebagai support atau kapal pendukung untuk military dia juga bisa untuk kegiatan sosial, korban bencana alam. Kemarin juga produk PT PAL bisa membantu mencari korban JT 610, itu punya PT PAL. Memang kapal ini dilengkapi alat untuk mendeteksi," ujar dia.

Bayu mengatakan, sejauh ini kapal milik PT PAL cukup diminati oleh negara lain. Bahkan pemesanan kapal banyak yang datang dari Afrika, Timur Tengah dan Asia Tenggara.

"Alhamdulillah, untuk kapal kapal ini sampai ke Afrika, Timur Tengah, Asia Tenggara termasuk Brunei, Malaysia, Thailand. Itu tertarik sejenis ini (LPD)," tutur dia.

Meski demikian, kapal buatan Indonesia ini nampaknya masih sulit menembus pasar Eropa. Alasannya, teknologi milik Eropa jauh lebih mumpuni. Indonesia sendiri telah menggandeng Eropa untuk meningkatkan kualitas kapal buatan dalam negeri.

"Kalau Eropa kita kalah teknologi. Kita dengan negara negara Eropa itu kerangkanya adalah collaboration stategic, kerja sama untuk meningkatkan teknologi dalam negeri. Kalau kita membangun kapal kita tidak punya tehnologi lebih, maka kita akan gandeng mereka meningkatkan teknologi kita,” ujar dia.

 ♖ Liputan 6